Penghijauan






Pemanasan global merupakan sesuatu yang tak terbantahkan lagi dan dapat menimbulkan dampak sangat mengerikan. Demikian salah satu pernyataan dalam laporan terakhir Panel PBB untuk Perubahan Iklim atau United Nations.

Laporan tersebut menyebut manusia sebagai biang utama pemanasan global. Emisi gas rumah kaca mengalami kenaikan 70 persen antara 1970 hingga 2004. Konsentrasi gas karbondioksida di atmosfer jauh lebih tinggi dari kandungan alaminya dalam 650 ribu tahun terakhir.

Rata-rata temperatur global telah naik 1,3 derajat Fahrenheit (setara 0,72 derat Celcius) dalam 100 tahun terakhir. Muka air laut mengalami kenaikan rata-rata 0,175 centimeter setiap tahun sejak 1961.

Sekitar 20 hingga 30 persen spesies tumbuh-tumbuhan dan hewan berisiko punah jika temperatur naik 2,7 derajat Fahrenheit (setara 1,5 derajat Celcius). Jika kenaikan temperatur mencapai 3 derajat Celcius, 40 hingga 70 persen spesies mungkin musnah.

Meski negara-negara miskin yang akan merasakan dampak sangat buruk, perubahan iklim juga melanda negara maju. Pada 2020, 75 juta hingga 250 juta penduduk Afrika akan kekurangan sumber air, penduduk kota-kota besar di Asia akan berisiko terlanda banjir dan rob. Di Eropa, kepuanahan spesies akan ekstensif. sementara di Amerika Utara, gelombang panas makin lama dan menyengat sehingga perebutan sumber air akan semakin tinggi.

Kondisi cuaca ektrim akan menjadi peristiwa rutin. Badai tropis akan lebih sering terjadi dan semakin besar intensitasnya. Gelombang panas dan hujan lebat akan melanda area yang lebih luas. Risiko terjadinya kebakaran hutan dan penyebaran penyakit meningkat.

Sementara itu, kekeringan akan menurunkan produktivitas lahan dan kualitas air. Kenaikan muka air laut akan memicu banjir lebih luas, mengasinkan air tawar, dan menggerus kawasan pesisir.

untuk mencegah itu kemarin 30/04/2008 PT. Telkom cabang Tenggarong mengadakan penanaman Pohon bersama dinas, dan Organisasi, salah satunya Purna Paskibraka Indonesia Kutai Kartanegara, Aksi penanaman 500 pohon di daerah ini dimulakan kemarin pagi di kawasan tepian sungai Mahakam, Jalan K.H Akhmad Muksin, Kelurahan Timbau, Tenggarong.

untuk meramaikan acara panitia penyelenggara juga menyediakan doorprize, yang setiap hadiah rata - rata di borong PPI Kukar


Pembukaan "Sekretariat PPI Cup"

Pengurus Daerah Purna Paskibraka Indonesia Kutai Kartanegara Mengadakan pertandingan PS2 antar anggota PPI se - Kab Kutai Kartanegara Bertajuk " Sekretariat PPI Cup " kemarin di sekretariat PPI Kutai Kartanegara, pertandingan ini di ikuti 120 orang dengan 340 Club pilihan masing, acara ini di buka oleh Wakil Ketua Purna Paskibraka Indonesia Kutai Kartanegara, Sdr. Nur Kasan, acara ini berlansung selama 2 hari dengan menggunakan 5 PS2 dan 5 Tv


Makna Pahlawan Masa Kini

Bangsa kita setiap tahun merayakan Hari Pahlawan pada 10 November. Pada saat itulah kita mengenang jasa para pahlawan yang telah bersedia mengorbankan harta dan nyawanya untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Kita memilih 10 November sebagai Hari Pahlawan karena pada tanggal tersebut 61 tahun silam para pejuang kita bertempur mati-matian untuk melawan tentara Inggris di Surabaya. Saat itu kita hanya mempunyai beberapa pucuk senjata api, selebihnya para pejuang menggunakan bambu runcing. Namun para pejuang kita tak pernah gentar untuk melawan penjajah. Kita masih ingat tokoh yang terkenal pada saat perjuangan itu yakni Bung Tomo yang mampu menyalakan semangat perjuangan rakyat lewat siaran-siarannya radionya. Ruslan Abdul Gani yang meninggal beberapa waktu lalu, adalah salah seorang pelaku sejarah waktu itu. Setiap tahun kita mengenang jasa para pahlawan. Namun terasa, mutu peringatan itu menurun dari tahun ke tahun. Kita sudah makin tidak menghayati makna hari pahlawan. Peringatan yang kita lakukan sekarang cenderung bersifat seremonial. Memang kita tidak ikut mengorbankan nyawa seperti para pejuang di Surabaya pada waktu itu. Tugas kita saat ini adalah memberi makna baru kepahlawanan dan mengisi kemerdekaan sesuai dengan perkembangan zaman. Saat memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, rakyat telah mengorbankan nyawanya. Kita wajib menundukkan kepala untuk mengenang jasa-jasa mereka. Karena itulah kita merayakan Hari Pahlawan setiap 10 November. Akan tetapi kepahlawanan tidak hanya berhenti di sana. Dalam mengisi kemerdekaan pun kita dituntut untuk menjadi pahlawan. Bukankah arti pahlawan itu adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran? Bukankah makna pahlawan itu adalah pejuang gagah berani? Bukankah makna kepahlawanan tak lain adalah perihal sifat pahlawan seperti keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan? Menghadapi situasi seperti sekarang kita berharap muncul banyak pahlawan dalam segala bidang kehidupan. Dalam konteks ini kita dapat mengisi makna Hari Pahlawan yang kita peringati setiap tahun pada 10 November, termasuk pada hari ini. Bangsa ini sedang membutuhkan banyak pahlawan, pahlawan untuk mewujudkan Indonesia yang damai, Indonesia yang adil dan demokratis, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kita mencatat beberapa wilayah Indonesia masih dihantui tindakan teror. Kita membutuhkan orang yang berani untuk menangkap pelakunya. Negeri kita sedang dililit kanker korupsi yang sudah mencapai stadium terakhir. Kita membutuhkan orang-orang berani untuk memberantasnya. Seorang ilmuwan pun bisa menjadi pahlawan dalam bidangnya berkat penemuannya yang dapat menyejahterahkan orang banyak. Seorang petugas pemadam kebakaran yang tewas saat berjuang mematikan api yang sedang membakar rumah penduduk adalah pahlawan juga. Setiap orang harus berjuang untuk menjadi pahlawan. Karena itu, hari pahlawan tidak hanya pada 10 November, tetapi berlangsung setiap hari dalam hidup kita. Setiap hari kita berjuang paling tidak menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan keluarga. Artinya, kita menjadi warga yang baik dan meningkatkan prestasi dalam kehidupan masing-masing. Mahasiswa Universitas Trisakti yang tewas ditembak dalam perjuangan reformasi sewindu lalu adalah pahlawan, meskipun negara belum menobatkan mereka sebagai pahlawan. Memang tidak mudah untuk menjadi pahlawan. Mungkin lebih mudah bagi kita menjadi pahlawan bakiak, yaitu suami yang patuh (takut) kepada istrinya. Atau menjadi pahlawan kesiangan, yakni orang yang baru mau bekerja (berjuang) setelah peperangan (masa sulit) berakhir atau orang yang ketika masa perjuangan tidak melakukan apa-apa, tetapi setelah peperangan selesai menyatakan diri pejuang. Hari ini kita merayakan Hari Pahlawan untuk mengenang jasa para pejuang pada masa silam. Kita bertanya pada diri sendiri apakah kita rela mengorbankan diri untuk mengembangkan diri dalam bidang kita masing-masing dan mencetak prestasi dengan cara yang adil, pantas dan wajar. Itulah pahlawan sekarang. [] [Suara Pembaruan, Jumat, 10 Nopember 2006]

Menumbuhkan Heroisme Baru

NEGARA tanpa pahlawan sama artinya negara tanpa kebanggaan. Jika sebuah negara tak memiliki tokoh yang bisa dibanggakan, negeri itu miskin harga diri. Ia bahkan bisa menjadi bangsa kelas teri. Karena itu, setiap negara mestinya memiliki tokoh yang disebut pahlawan. Pahlawan menjadi penting karena ia memberi inspirasi. Inspirasi untuk selalu memperbaiki kondisi negeri. Inspirasi agar bangsa ini terus bangkit. Dan, bangsa ini sesungguhnya mempunyai amat banyak orang yang memberi inspirasi itu. Persoalannya, apakah kita mampu ‘mengambil’ inspirasi dan kemudian secara terus-menerus mempunyai spirit untuk memperbaiki bangsa ini? Karena itu, memperingati Hari Pahlawan seperti pada hari ini merupakan saat tepat untuk evaluasi ulang pemahaman kita akan arti pahlawan. Jika tidak, ia hanya akan menjadi seremoni hampa makna, tak membuat perubahan apa pun bagi negara. Negara seperti dibiarkan berjalan menuju bibir jurang. Setiap generasi memang memiliki persoalan dan tantangannya sendiri. Dulu, musuh utama bangsa ini adalah penjajah. Heroisme untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan pun menjadi pekik yang tidak pernah berhenti disuarakan. Kini, siapa yang layak menjadi musuh bangsa ini? Musuh besar kita tak lain dan tak bukan adalah korupsi, kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan. Itulah sejumlah masalah utama yang dihadapi negeri ini sekarang. Korupsi seperti penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Orang justru berlomba-lomba mengeruk uang negara. Dan, itu terjadi di semua level yang menyebar baik di pusat maupun di daerah. Hampir di semua jajaran, baik yudikatif, legislatif, maupun eksekutif, terjangkit penyakit korupsi kronis. Jumlah orang miskin juga seperti tak ada habis-habisnya. Padahal, pembangunan terus dilakukan. Tentu ada yang salah atau tidak beres dalam proses pembangunan kita. Salah dalam tataran perencanaan dan implementasi. Sebab masih amat banyak yang berpikiran bahwa harta negara boleh diambil semau-maunya. Kini bangsa ini juga mengalami problem amat serius, yakni ketidakpercayaan diri. Sebuah bangsa tanpa kepercayaan diri tidak mungkin bisa menghasilkan produk-produk unggul. Keunggulan hanya bisa diraih jika kita mempunyai kebanggaan akan bangsa dan negerinya sendiri. Dengan inferioritas ini kita akan sulit bersaing di era global. Sebab globalisasi menuntut keunggulan. Tanpa keunggulan, kita hanya akan menjadi penonton yang bisa berteriak-teriak, tetapi tidak bisa menentukan apa-apa. Itulah makna heroisme baru yang harus dibangun terus-menerus. Kita tidak ingin jasa para pahlawan dan nilai-nilai luhurnya hanya ada dalam ingatan, tapi terlupakan dalam tindakan. [] [Media Indonesia, Jum’at, 10 November 2006]

Persaudaraan Paskibraka

Dalam suatu organisisi Purna Paskibraka pada mulanya hubungan antara anggota adalah secara horisontal yaitu hubungan antara anggota/sahabat. Setelah terbina dengan akrab maka terjalinlah ikatan batin yang sangat kuat sehingga menjadi hubungan secara vertikal yaitu hubungan saudara sedarah daging atau seperti kakak dan adik kandung sesama anggota organisasi. Anggota yang satu merupakan adimitra anggota yang lain dan semua itu akan semakin membuat jalinan keakraban didalamnya. Hubungan antara individu ini dapat dikatakan sebagai hubungan secara mikro dan pada akhirnya akan lebih berkembang lagi menjadi hubungan secara makro. Karena hubungan antara individu merupakan adimitra, maka konsekuensinya ia akan menjadi kenal/mengenal saudara-saudara dan keluarga dari sesama anggota organisasi dan hal ini akan lebih berkembang dengan saling mengenal antar keluarga dari anggota organisasi. Pada akhirnya organisisi Purna Paskibraka merupakan suatu organisasi yang sangat erat dan akrab hubungan antar anggotanya dan antar keluarga anggota. Keluarga anggota yang satu merupakan adimitra keluarga anggota yang lain. Kalau tidak ada rasa kekeluargaan dunia hanya terdiri dari manusia yang saling menghisap, mencari keuntungan sendiri dan saling membinasakan. Sikap kekeluargaan artinya memberikan yang terbaik kepada orang lain. Tetapi kita hanya bisa memberikan yang terbaik kalau kita memilikinya. Rasa persaudaraan sejati inilah yang menjadi ciri khas organisisi Purna Paskibraka dan membedakan dengan organisasi yang lain. Dari hubungan kekeluargaan akan melahirkan perasaan satu untuk semua dan semua untuk satu. Seorang anggota akan mempunyai rasa kesetiakawanan dan ikatan batin yang sangat kuat, sehingga apa yang ia rasakan akan dirasakan oleh anggota yang lain. Demikian juga anggota yang besar dapat merasakan apa yang dirasakan oleh seorang anggotanya. Hal ini akan menimbulkan perasaan saling handarbeni organisasi, oleh sebab itu apabila di dalam kegiatan ada kesulitan yang dialami oleh seorang anggota, akan dirasakan juga oleh anggota yang lain. Akhirnya apabila didalam organisasi ada suatu masalah maka akan dirasakan oleh seluruh anggotanya. Pada akhirnya ikatan moral/ batin yang erat ini benar-benar akan merupakan ikatan persaudaraan sejati yang kekal, tak goyah oleh godaan dan rintangan sehingga lestari selamanya. Proses menumbuhkan persaudaraan sejati perlu diusahakan terus menerus karena persaudaraan sejati itu dibuat, bukan ada begitu saja. Dalam kenyataannya kita sering kesulitan membangun persaudaraan sejati dengan orang-orang intern kita sendiri. Untuk mengatasi hal ini digunakan pendekatan secara personal/personal approach yaitu dengan jalan saling kunjung mengunjungi/silaturahmi ke rumah para anggota maupun keluarganya, atau dapat juga dengan menggunakan sarana tehnologi yang semakin maju yaitu telepon, email, chatting dan lain sebagainya sehingga jarak, waktu, lokasi tidak akan menjadi halangan dalam berkomunikasi. Apabila ada salah satu anggota yang tidak begitu aktif di organisasi Purna Paskibraka karena satu dan lain hal, maka anggota yang lain juga harus selalu memberi perhatian dan memberitahukan perkembangan organisasi. Jangan sampai anggota tersebut ditinggalkan karena ia merupakan bagian dari keluarga besar yang ada. Jika ada anggota yang kembali aktif maka harus disambut dengan suka cita, dan hal ini bisa dianggap sebagai kesembuhan dari sakit. Tetapi kalau ada anggota yang tidak aktif dan tidak ingin lagi bersama-sama mangabdi dalam wadah organisisi Purna Paskibraka, maka tidak boleh dipaksa-paksa untuk terus bergabung melainkan harus dihargai dan dihormati hak-haknya untuk menentukan jalan pengabdiannya sendiri. Sampaikan ucapan terima kasih atas segala perhatian yang telah diberikan kepada organisasi, akan tetapi sebagai saudara tetap harus diberi informasi sehingga hatinya akan tergerak untuk terlibat secara aktif dalam organisasi. [Budiharjo Winarno, PPI 78] []